Saras 008 ( AU / fanfiction ) Season 1 Episode 2

 Episode 2: Awal yang Baru


Saras 008


Udara pagi Januari terasa dingin saat Saras melangkah keluar dari rumah tantenya. Rumah yang terasa asing, meskipun sudah beberapa minggu ia tinggal di sana. Tante Ratna, saudara dari ibu angkatnya, tidak banyak bicara, hanya menatap Saras dengan sorot mata kasihan yang entah kenapa semakin membuatnya merasa sendirian.

Ia berjalan menuju sekolah dengan langkah pelan, sesekali mengeratkan jaketnya. Perasaan hampa masih tersisa setelah kejadian malam itu—truk, kucingnya, cahaya aneh... semuanya terasa seperti mimpi. Tapi bekas luka yang seharusnya ada di tubuhnya telah lenyap begitu saja.

Bel sekolah berbunyi nyaring saat Saras melangkah ke dalam kelas. Semua terasa sama seperti sebelumnya. Ibu guru masuk dengan senyum ramah, membuka semester baru dengan basa-basi seperti biasa.

"Anak-anak, sebentar lagi kita menghadapi ujian akhir di bulan April. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin, ya," ujar ibu guru dengan nada lembut namun tegas.

Saras hanya duduk diam, memandangi buku catatan kosong di depannya. Suara ibu guru seakan terdengar jauh, pikirannya masih terjebak pada pertanyaan-pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Saat jam istirahat tiba, Cindy, teman sekelasnya, menghampiri dengan ceria.

"Ke kantin yuk!" ajaknya sambil menarik tangan Saras.

Saras mengangguk pelan, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa berat. Mereka berjalan berdua ke kantin yang sudah ramai oleh siswa lain. Cindy mulai berbicara tentang persiapan ujian dan rencana setelah lulus, sementara Saras hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Tiba-tiba, suasana kantin berubah.

Suara tawa keras terdengar dari tengah-tengah ruangan. Seorang anak laki-laki kurus terlihat basah kuyup, air menetes dari rambutnya ke lantai. Beberapa anak lain di sekelilingnya tertawa puas.

"Kenapa diem aja? Gak marah, hah?" seorang anak yang lebih besar dengan wajah penuh ejekan mendorong bahunya.

Saras merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat.

"Udah cukup," kata Saras dengan suara tenang, tapi tegas.

Si pembully menoleh, matanya menyipit. "Lihat siapa yang sok jadi pahlawan di sini."

Tanpa peringatan, ia mengayunkan tangannya dan memukul wajah Saras keras. Tapi anehnya, Saras tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit, tidak ada sensasi terbentur seperti seharusnya. Ia hanya berdiri diam, terpaku pada kenyataan aneh itu.

Wajah si pembully berubah bingung, tapi kemudian ia menendang perut Saras dengan keras. Saras terjatuh ke lantai, tapi lagi-lagi, tak ada rasa sakit. Ia segera bangkit kembali, membuat semua yang melihat terperangah.

Si pembully yang mulai kehilangan kesabaran mencengkeram leher Saras dan mendorongnya ke belakang. Saras bisa merasakan tekanan di lehernya, tapi tanpa berpikir panjang, ia mendorong si pembully dengan kekuatan yang tidak ia sadari sebelumnya.

Anak itu terpental sejauh tiga meter, jatuh terduduk dengan wajah penuh keterkejutan. Kantin pun riuh oleh sorak-sorai siswa lain yang menyaksikan kejadian itu.

Saras terkejut, jantungnya berdebar kencang. Ia mundur beberapa langkah dan berlari menuju Cindy yang masih terpaku di tempatnya.

"Kamu... kamu baik-baik aja?" Cindy bertanya dengan suara gemetar.

Saras hanya mengangguk, tapi pikirannya dipenuhi tanda tanya yang menyesakkan. Tanpa banyak bicara, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Di dalam kamarnya yang remang-remang, Saras duduk di tepi tempat tidur. Ia memandang kedua tangannya, mencoba memahami apa yang terjadi sebelumnya. Dengan ragu, ia mengepalkan tangannya erat-erat.

Saat itulah sesuatu yang tak terduga terjadi.

Tubuhnya tiba-tiba diselimuti cahaya yang membentuk kostum ketat berwarna hitam dan putih. Bulu kuduknya merinding saat merasakan sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya. Wajahnya bersinar sejenak sebelum sebuah topeng muncul menutupi sebagian wajahnya.

Dengan napas memburu, Saras berdiri dan melihat pantulan dirinya di cermin.

Matanya membelalak melihat sosok yang kini berdiri di depannya—seorang gadis dengan kostum seksi yang warna nya mirip seekor kucing hitam-putih yang pernah ia sayangi.

"AAAHHH!" teriaknya, ketakutan dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Posting Komentar

0 Komentar