Episode 3: Saras 008
Saras terduduk di kasurnya, masih terkejut dengan apa yang baru saja ia alami. Pantulan dirinya di cermin masih membekas dalam pikirannya—kostum, topeng, semuanya terasa seperti adegan dari film. Tapi ini nyata. Ia meremas rambutnya sendiri, mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba, suara samar terdengar dari kejauhan.
"To...long...!"
Saras terdiam. Ia tahu itu bukan halusinasi. Suara itu jelas, seakan memanggil langsung ke telinganya meskipun jaraknya entah seberapa jauh. Ia berdiri dan membuka jendela kamar, mencoba melacak sumber suara.
Hujan gerimis masih turun, membasahi jalanan di luar. Ia memandang ke bawah, ke jalan setapak yang sepi. Entah dari mana dorongan itu datang, Saras merasa ia harus melompat—seolah tubuhnya sendiri yang memutuskan sebelum ia sempat berpikir.
"Jangan, Saras, kau bisa mati!" batinnya berkata. Tapi sesuatu di dalam dirinya mendesak.
Sebelum ia sadar, tubuhnya sudah melayang keluar dari jendela, dan saat mendarat di jalan berbatu, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit, tidak ada luka. Ia berdiri dengan napas terengah, takjub sekaligus takut pada dirinya sendiri.
Tanpa ragu lagi, Saras mulai berlari, mengikuti arah suara yang meminta tolong.
Di sebuah gang gelap, ia melihat seorang ibu-ibu sedang diseret oleh seorang preman bertubuh besar. Tasnya dirampas, dan wanita itu menjerit ketakutan.
"Hei! Lepaskan dia!" Saras berteriak, suaranya menggema di gang sempit itu.
Preman itu menoleh, matanya menyipit dengan penuh ancaman. Namun, Saras tetap melangkah mendekat. Wanita yang dirampas berhasil melarikan diri, tapi sekarang perhatian preman itu sepenuhnya tertuju pada Saras.
"Jangan macam-macam kau, gadis kecil," katanya dengan suara serak. "Di gang ini, aku yang berkuasa. Kalau kau melawan, aku akan menghabisimu... dan menikmati tubuhmu setelahnya."
Kata-kata itu membuat Saras bergidik, tapi ia menolak mundur.
Preman itu mendekat dengan langkah berat, lalu mendorong Saras hingga terpojok ke tembok. Tubuh Saras gemetar, ia tidak punya pengalaman bertarung, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan kasar preman itu mencengkeram lehernya, mendorongnya lebih keras ke dinding.
"Topeng aneh ini," katanya sambil mencoba meraih topeng Saras. "Akan kubuka biar kulihat wajahmu."
Ketakutan dan keberanian bercampur di dalam diri Saras. Ia mengepalkan tangan, mencoba melawan rasa panik yang mencekam. Dengan segala kekuatan yang ia punya, ia memukul perut preman itu.
Preman itu terhuyung ke belakang, terjatuh dengan raut wajah tak percaya.
"Berani juga kau, gadis kecil..."
Namun, ia tidak sendirian. Beberapa temannya datang, tiga orang dengan tubuh besar mendekati Saras. Salah satu dari mereka langsung mengunci lehernya dari belakang, sementara yang lain mulai memukul perut Saras berulang kali.
"Bam! Bam! Bam!"
Saras merasa setiap pukulan seperti menekan jantungnya. Tapi anehnya, ia tidak pingsan. Hanya rasa sakit samar yang mengganggu.
"Apa-apaan ini? Gadis ini tidak pingsan juga!" salah satu preman berkata, mulai kebingungan.
Saras mencoba melawan, tapi cengkeraman di lehernya semakin kuat. Ketika salah satu preman mengambil tongkat besi, Saras merasa ketakutannya memuncak.
"Sudah cukup, kita habisi dia sekarang," ujar preman itu sambil mengayunkan tongkat ke tubuh Saras.
Pukulan pertama membuat Saras menggigit bibir, menahan sakit yang mulai terasa nyata.
"Lihat itu, dia bahkan tidak menangis. Gadis keras kepala!"
Tongkat itu diayunkan lagi dan lagi, sepuluh kali berturut-turut. Saras mulai merasa tubuhnya melemah, mulutnya mengeluarkan ludah yang ia coba tahan. Tapi sesuatu di dalam dirinya menolak menyerah.
"Aku tidak akan kalah..." gumamnya pelan.
Dengan tekad yang tersisa, Saras mengangkat kakinya dan menendang salah satu preman dengan keras. Orang itu jatuh terjerembap.
Kekacauan terjadi. Saras menggunakan kakinya lagi, menghajar satu per satu. Dengan tenaga yang tersisa, ia membalikkan tubuh dan menyerang preman yang mengunci lehernya. Cengkeraman itu terlepas, dan Saras akhirnya berdiri dengan tubuh gemetar, napas terengah-engah.
Para preman itu mulai ketakutan.
"Dia... bukan gadis biasa. Kita pergi saja!" seru salah satu dari mereka.
Satu per satu, mereka lari meninggalkan Saras yang masih berdiri dengan tubuh penuh memar.
Hujan mulai berhenti. Saras memandang tangannya yang bergetar, lalu menatap langit.
"Aku... aku menjadi manusia super," katanya pelan, matanya berkaca-kaca.

0 Komentar