Saras 008 ( AU / fanfiction ) Season 1 Episode 1

 Episode 1: Malam yang Tak Terlupakan

Saras


Aku duduk di ruang tamu yang penuh dengan dekorasi Natal. Pohon cemara berdiri megah di sudut ruangan, dihiasi dengan lampu kelap-kelip dan bola-bola berwarna emas. Di bawahnya, ada beberapa kado yang tersusun rapi. Tapi aku tahu, tak ada satu pun di sana yang benar-benar untukku.

Ayah dan Ibu angkatku ada di ruang makan, berdebat seperti biasa. Suara mereka semakin keras, menyelimuti seluruh rumah hingga terasa sesak. Aku berusaha untuk tidak peduli, namun kata-kata tajam mereka seperti hujan yang membasahi hatiku.

"Aku sudah nggak tahan lagi! Aku pergi!" suara ayah menggema, diiringi suara kursi yang tergeser kasar.

Aku menoleh dan melihatnya berdiri, wajahnya merah padam, matanya penuh amarah. Ibu menatapnya dengan dingin, tangannya gemetar menahan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Pergilah! Memang kamu pikir aku butuh kamu?" suara ibu terdengar pahit.

Ayah tak menjawab. Ia hanya mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu, melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang. Aku hanya bisa duduk diam, menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Hanya suara angin malam yang masuk, menggantikan kehangatan yang tak pernah ada di rumah ini.

Aku ingin mengejarnya, tapi sebelum aku sempat bergerak, suara ibu memanggilku. Tatapannya menusuk tajam, seperti ingin menghakimi keberadaanku.

"Keluar kamu saras , ikut ayahmu yang tidak tahu diri itu" katanya dengan suara dingin.

Hatiku mencelos. Aku sudah terbiasa dengan kata-kata kasar ibu, tapi malam ini... rasanya berbeda. Aku tahu ini akhirnya. Ia menginginkanku pergi.

"Kemasi barang-barangmu. Aku nggak mau lihat kamu di sini lagi," katanya, lalu berbalik meninggalkanku sendirian.

Aku duduk diam, pandanganku kosong. Kado Natal tahun ini bukan hadiah yang indah, melainkan sebuah perpisahan yang pahit. Aku beranjak ke kamar, mengambil tas kecil, mengisinya dengan beberapa pakaian dan barang berharga seadanya. Tanganku gemetar saat menyentuh foto lama—aku kecil di antara ayah dan ibu angkatku, tersenyum dengan polos, seolah segalanya baik-baik saja.

Di luar, angin malam semakin menusuk. Aku keluar dari rumah dengan langkah gontai, menyusuri jalan yang basah oleh hujan yang baru saja reda. Kota ini masih merayakan Natal, tapi untukku, semua terasa hampa. Aku menggigit bibir, menahan air mata yang mendesak keluar.

Tak ada tempat untuk pulang. Aku hanya punya satu teman sejati—seekor kucing hitam putih yang selalu menemaniku sejak kecil. Aku mendekapnya erat, berjalan tanpa arah, berharap keajaiban Natal bisa datang... meski aku tahu, mungkin tidak akan pernah.


Saras pun berdiri di pinggir jalan, tubuhnya lelah, langkah kakinya gontai. Pandangannya kosong menatap lampu-lampu kota yang temaram. Di kejauhan, ia melihat mobil ayahnya melaju menjauh, lampu merahnya menghilang di tikungan. Ia ingin berlari mengejarnya, meneriakkan namanya, tapi suara itu hanya tertahan di tenggorokan.

"Ayah..." bisiknya pelan, suaranya tersapu angin malam.

Kucing hitam-putih kesayangannya mengeong pelan di pelukannya, seakan tahu Saras sedang dalam kesedihan yang dalam. Air matanya jatuh di kepala kecil si kucing, tapi Saras tetap melangkah, menembus dinginnya malam tanpa arah.

Jalanan basah setelah hujan, genangan air memantulkan lampu-lampu jalan yang berkelip. Saras melangkah tanpa tujuan, pikirannya penuh dengan kata-kata ibunya yang menyakitkan. Hatinya sesak. Ia tak tahu harus ke mana. Ia tak punya siapa-siapa lagi.

Lalu, semuanya terjadi begitu cepat.

Cahaya terang menyilaukan matanya. Bunyi klakson meraung keras di telinganya. Sebuah truk besar melaju kencang ke arahnya. Saras tidak sempat bereaksi.

BRAK!

Tubuhnya terpental keras ke aspal. Dunia berputar. Nafasnya terengah, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya yang sayu menatap wajah kecil hewan itu.

"K...kucingku..." suaranya serak, bibirnya gemetar.

Saras merasakan tubuh kucing itu tak lagi bergerak. Ia menelan ludah, memaksa untuk berpikir jernih, tapi kesadarannya mulai memudar. Di kejauhan, terdengar suara langkah kaki mendekat.

Sopir truk turun dengan wajah panik, tapi begitu ia melihat Saras tergeletak di tanah, tubuhnya bergetar. Hujan rintik membasahi jalanan dan wajah Saras yang pucat pasi. Sopir itu mundur selangkah, melihat kiri dan kanan, lalu... tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan lari meninggalkan Saras.

Saras ingin berteriak, meminta tolong, tapi suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menatap langit malam yang semakin gelap.

Lalu sesuatu terjadi.

Tubuh kucing di tangannya mulai bercahaya, perlahan tapi pasti. Cahaya itu hangat, lembut, dan tak seperti apapun yang pernah Saras lihat. Ia menatapnya dengan mata lemah, cahaya itu meresap ke dalam tangannya, masuk ke pori-porinya.

"Apa... ini?" gumamnya lemah.

Tangan Saras mulai bersinar terang, cahaya menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang aneh—energi hangat mengalir ke dalam dirinya, mengisi setiap sel tubuhnya. Luka-luka di kulitnya perlahan memudar, rasa sakitnya menghilang.

Kemudian semuanya menjadi putih.

Saras tak ingat apa-apa lagi.

...

Saat ia membuka mata, tubuhnya masih tergeletak di tengah jalan yang sepi. Hujan masih turun, membasahi wajahnya. Ia duduk perlahan, menatap tangannya sendiri—tangan yang tadi bersinar, kini tampak normal.

Kucingnya sudah tak ada.

"Apa yang terjadi...?" suaranya lirih, matanya menatap ke langit yang kelam.

Posting Komentar

0 Komentar