Episode 6: Anak aneh
Dalam ruangan gelap yang lembap, Saras terikat di kursi dengan kedua tangannya di atas kepala. Tubuhnya yang lelah masih berusaha melawan efek gas yang perlahan mulai hilang. Tiba-tiba...
DUG!
Pukulan keras menghantam perutnya. Saras mengerang pelan, matanya mulai terbuka perlahan.
"Bangunlah, gadis kecil," suara berat Tuan Bee terdengar di telinganya.
Saras membuka mata dengan tatapan kosong, napasnya pendek. Tuan Bee menatapnya dengan seringai penuh kemenangan, lalu melayangkan pukulan demi pukulan ke perut Saras.
Namun, Saras hanya tersenyum tipis, meski keringat membasahi dahinya. "Pukulanmu... tak berasa apa-apa," ucapnya lirih.
Tuan Bee terkekeh. "Oh, begitu? Kalau begitu... biarkan aku menghajarmu seratus kali."
Satu per satu pukulan bertubi-tubi menghantam perut Saras, namun ia tetap bertahan, hanya sesekali menggigit bibir menahan rasa sakit. Hingga akhirnya, pukulan ke-100 diberikan.
Tuan Bee mundur, terengah. "Aku lelah... Kau memang bukan gadis biasa."
Saras menatapnya dengan pandangan tajam. "Apa yang kau coba lakukan?"
Bee tertawa kecil. "Setelah efek gas itu hilang, kau pasti bisa lepas dan menghajarku balik... Tapi sebelum itu terjadi, aku akan menusukmu dulu."
Ia menghunus pisau dari balik jasnya dan tanpa ragu menusukkannya ke dada Saras. Namun... TRANG! Pisau itu bengkok seketika.
Tuan Bee melangkah mundur, matanya melebar. "Luar biasa... Kau bukan manusia."
Dengan gerakan cepat, Saras merusak ikatan di tangannya. "Benda tajam tak akan mempan padaku," ujarnya tajam.
![]() |
| Saras 008 melepaskan diri |
Bee menyeringai. "Tapi setidaknya aku tahu beberapa hal tentangmu sekarang. Kita akan berjumpa lagi... dan saat itu, kau akan habis di tanganku."
Saras mendekat, namun anak buah Bee segera menyerbu, menembakinya dengan peluru. Meskipun tak menembus tubuhnya, jumlah peluru yang menghantam cukup membuat tubuh Saras terasa sakit.
"Aku harus keluar dari sini," pikir Saras.
Tuan bee kabur ,saras melawan anak buah yg tersisa yg menembaki nya . Setelah selesai dia mencari cara keluar dan keluar dari tempat itu.
Keesokan Harinya
Di sekolah, Saras duduk di kelas dengan tubuh yang terasa nyeri. Rasa sakit dari serangan peluru semalam masih membekas. Ia mulai berkeringat dingin, membuat Ronny, teman sekelasnya, khawatir.
"Kau baik-baik saja, Ras?" tanya Ronny.
"Aku... pusing," jawab Saras lemah.
Ronny segera membawanya ke UKS. Begitu berbaring di ranjang, Saras langsung tertidur.
Namun, tanpa disadarinya, Michael, teman sekelasnya yang terkenal nakal, masuk ke UKS. Matanya memandang Saras yang terbaring lemah. Di kepalanya, pikiran mesum berputar.
Dengan perlahan, ia meraba perut Saras, lalu tangannya bergerak lebih jauh, meremas remas buah dadanya.
Saras terbangun seketika dan berteriak,
"Uhhhhh .."
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!"
Ronny, yang baru kembali dengan air minum, melihat kejadian itu dan langsung menghajar Michael tanpa pikir panjang.
Michael tersungkur ke lantai. "Kau akan membayar ini, Ronny!" bentaknya sambil melarikan diri.
Ronny menoleh ke Saras dengan cemas. "Kau gak apa-apa, Ras?"
Saras mengangguk pelan, masih terkejut. "Dia hampir memperkosaku..."
"Haruskah kita lapor ke guru?" tanya Ronny geram.
Saras menggeleng. "Tidak... Aku tidak ingin membuat tanteku khawatir."
Namun, Ronny memperhatikan sesuatu. Baju Saras sedikit terbuka, memperlihatkan memar besar di perutnya.
"Ras... perutmu kenapa?"
Saras buru-buru menutup bajunya. "Ah, ini... aku jatuh dari motor," jawabnya canggung.
"Tapi kau kan jarang naik motor..."
"Aku baik-baik saja, Ronny. Terima kasih. Aku ingin balik ke kelas," ucap Saras, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Setelah Pulang Sekolah
Bel pulang berbunyi. Cindy melambaikan tangan. "Duluan ya, Saras!"
"Oke," Saras membalas dengan senyum lemah.
Namun, saat ia berjalan di koridor yang mulai sepi, seorang murid misterius menghampirinya.
"HALO, SARAS."
Saras berhenti dan menoleh. "Kamu siapa?"
Murid itu menyeringai. "Saras sang pahlawan kota, pahlawan kebajikan... pahlawan kita semua."
Saras terkejut, wajahnya berubah pucat. "Apa maksudmu?"
Murid itu tersenyum lebih lebar. "Aku tahu siapa dirimu sebenarnya..."
Kalo mau lanjut , tulis di komen yaa ..
Kalo ga ada yg komen , ga dilanjutin lhoo 🤣

0 Komentar